Karyawan/Pegawai = Mapan.??

Sudah menjadi anggapan sebagian besar masyarakat dinegeri ini kalau mempunyai pekerjaan disuatu perusahaan,pabrik,dan sejenisnya ataupun yang bekerja sebagai pegawai adalah suatu bentuk kemapaman dalam hal finansial atau keuangan. Anggapan seperti itu sudah turun temurun diwariskan dan didoktrinkan kepada anak
cucu kita sehingga hal tersebut seakan menjadi patokan atau acuan dalam berbagai kepentingan personal,misalnya dalam hal mencari jodoh,dan lain sebagainya.


Pasti orang tua akan lebih cenderung memilih suami/istri untuk anak-anaknya dari kriteria-kriteria yang salah satunya yaitu pekerjaannya sebagai seorang karyawan/pegawai ataupun pekerja kantoran, karena mereka beranggapan bahwa kalau seorang pegawai ataupun pekerja kantoran itu sama dengan pekerjaannya mapan dan terlihat berkelas. Yaaah itu sih sah-sah saja, tetapi mari kita bahas lebih dalam lagi arti dari kata mapan tersebut.

Pekerjaan mapan itu sama dengan gaji yang tetap untuk setiap bulannya atau setiap periode tertentu, sementara kebutuhan hidup setiap manusia apakah juga tetap.?? Tentu tidak kan.?? malah semakin hari kebutuhan kita semakin meningkat sementara gaji pegawai/karyawan dan pegawai kantor gajinya relatif  tetap, ya walaupun kalau ingin naik gaji mesti mengajukan kenaikan gaji ke atasan dan itu bukan semudah membalikan telapak tangan, iya kan.?? Maka dari itu, anggapan yang mengatakan bahwa seorang pegawai atau karyawan kantor,dan sejenisnya hidupnya mapan dan makmur perlu kita koreksi lagi.

Lalu pekerjaan seperti apa agar penghasilan kita bisa meningkat dan tidak cenderung tetap.?? jawabannya adalah berbisnis atau berwiraswasta secara mandiri. Memang perkara itu juga tidak semudah membalikkan telapak tangan, di dalam kita menjalankan usaha/bisnis, kita perlu tekun,sabar,bekerja keras&cerdas,serta siap untuk gagal&siap untuk berhasil dan punya kemauan yang keras untuk action atau tindakan nyata yaitu tindakan untuk memulai bisnis/usaha. Itulah modal utama yang perlu kita miliki.

Dalam agama islam juga dikatakan kalau 99 pintu rezeki itu ada di perdagangan,oleh karena itu Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya agar mencari rezeki dengan cara berdagang. Ada juga yang nyeletuk begini: "kalau semua orang berdagang,emangnya laku.??" Begini bray, rezeki itu tidak akan pernah tertukar kok,setiap orang punya rezekinya masing-masing, dalam ilmu ekonomi juga disebutkan justru semakin banyak transaksi jual beli,maka tingkat perekonomian suatu bangsa akan semakin maju.

Aduuh...mungkin sekian dulu ya bray pembahasan tentang hal diatas,lain waktu pasti akan saya lanjut lagi. Sepertinya sekarang inspirasi yang ada dikepala saya tiba-tiba hilang,jadi saya cut sampai disini dulu.

To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar